Citra Baru Mode New York

ADA yang baru dari catwalk NewYork. Bila biasanya runway musim gugur dan musim dingin Big Apple didominasi warna muram, kali ini nuansa manis dan sentuhan feminin merajai Pekan Mode New York.

Kendati dibuka dengan kabar muram meninggalnya desainer jenius Alexander Mc- Queen, Pekan Mode New York tetap berlangsung semarak. Koleksi yang dipertunjukkan para desainer mencerminkan mulai lepasnya industri mode New York dari cengkeraman resesi ekonomi. Warna gelap dan mood muram yang kerap mendominasi, kini luntur dan berganti siluet ringan, palet cerah, dan gaya sophisticated.

Hal itu terlihat di pertunjukkan Marc Jacobs, desainer yang dianggap paling berpengaruh di Amerika Serikat saat ini. Rancangannya untuk Pekan Mode Musim Gugur & Dingin New York 2010 hadir dalam tone berbeda. Koleksinya tampil dalam napas struktural kental yang membuat para model terlihat begitu anggun.

Jacobs, yang juga merupakan direktur kreatif untuk rumah mode Louis Vuitton, tidak lagi mengacu pada konsep party girl ala 1980-an, melainkan jauh lebih tenang dengan banyak gaun bergaris A, bervolume, dan penuh manik-manik berkilau sebagai aksesori. Gaun-gaun Jacobs juga hadir dengan potongan yang lebih maksimal—salah satu signature style yang akan menjadi kunci tren musim mendatang.

”Jacobs melakukan pekerjaan yang bagus. Koleksinya benar-benar cantik dan menunjukkan sisi sebenarnya dari mode. Busana yang tak hanya cantik dilihat, tapi juga cantik saat digunakan,” komentar Joe Zee, Direktur Kreatif Majalah Mode Elle.

Warna hitam yang biasanya menjadi palet utama di hampir semua koleksi desainer, di catwalk New York kali ini tampaknya berganti dengan warna emas, tembaga, dan perak. Palet metalik itu bisa ditemukan di banyak pertunjukan, termasuk karya Zac Posen, Carolina Herrera, Rachel Roy, Luca Luca, dan Diane von Furstenberg.

”Gold is glam dan setiap wanita berhak memilikinya untuk tampil memesona,” ujar Tracy Reese, desainer yang juga menggunakan palet metalik untuk koleksinya.

Di catwalk Donna Karan, nuansanya terasa sedikit berbeda. Koleksinya, yang sekaligus merupakan perayaan 25 tahun kiprahnya di dunia mode, tampil hampir semua dalam warna hitam dengan desain konstruktif yang chic.

”New York merupakan kota metropolitan, modern, nyaris kaku, namun punya energi yang begitu besar,” ujar Karan, yang menjadikan kota yang membesarkan namanya itu sebagai inspirasi koleksinya. ”Apa yang saya berikan adalah segalanya tentang New York,” sebut Karan.

Salah satu koleksi Karan, yang ternyata merupakan favorit Demi Moore, adalah mantel sebatas lutut dengan sentuhan origami. Padanannya adalah gaun ringan beraksen draperi ataupun kemeja katun dan celana ramping. Ilusi wanita tinggi langsing yang kerap hadir membayangi para konsumen tidak terlihat di panggung Zac Posen.

”Apa yang saya hadirkan adalah koleksi untuk konsumen, bukan untuk model,” ucap Posen, saat ditemui Reuters di belakang panggung.

Alasan itu yang kemudian membuat Posen menyajikan koleksi wearable berupa celana panjang, blus ringan, ataupun terusan sederhana nan manis. Sebagai sentuhan glamor, Posen banyak bermain dengan warna metalik yang menjadi samaran chic bagi garis rancangannya yang simpel.

Untuk menunjukkan bahwa koleksinya memang benar-benar ditujukkan bagi ”wanita biasa”, Posen tidak menggunakan modelimodel baru dengan tubuh ekstraramping, melainkan menggandeng para model veteran. Posen menilai, para model veteran ini lebih memiliki lekuk tubuh, seperti halnya Alek Wek, Hana Soukupova, Sessilee Lopez, dan Coco Rocha.

Perancang senior Amerika Serikat, Carolina Herrera menghadirkan koleksi dalam napas bohemian. Untuk ini, alasan Herrera simpel, ”Saya ingin merangkul konsumen yang lebih luas,” tuturnya, menambahkan Amerika Serikat penuh dengan remaja bergaya hipster dan boho.

Hal itu ditunjukkan Herrera dengan banyak menghadirkan warna-warna unik dan motif seru, nyaris tribal. Sesekali, Herrera menghadirkan aksen bulu pada jaket atau mantel untuk mempertegas citra musim gugur.

Bila desainer lain menjadikan lingkungan di sekelilingnya sebagai inspirasi, Monique Lhuillier menengok jauh ke China. Koleksinya kental dengan pengaruh gaya militer dan busana tradisional China. Merah dan emas adalah warna utama koleksinya, tetapi yang menjadi highlight adalah gaun-gaun halter bergaya cheongsam dalam motif floral.

”Musim dingin tak berarti harus menggunakan warna gelap, bukan?” sebut Lhuillier.